Info Biak – Sekolah Rakyat menjadi tujuan besar bagi Samuel Franklin Yawan, 45 tahun, pria berseragam lapangan hijau dengan sepatu boot berdebu yang tampak menyendiri di tengah riuh aula pelatihan Kementerian Sosial. Ia adalah calon Kepala Sekolah Rakyat dari Kabupaten Biak Numfor, Papua. Lima hari pelatihan mental dan manajerial ala militer belum sepenuhnya meredakan kegugupannya. Namun satu hal pasti: tekadnya bulat.

Franklin bukan orang baru di dunia pendidikan. Ia adalah Kepala SMA Negeri Samber, sekolah yang ia bangun dan rawat sejak lama di kampung halamannya. Tapi saat mendengar soal Sekolah Rakyat—sekolah berasrama gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem—hatinya tergugah.
“Kalau mau aman, saya bisa tetap di SMA Samber. Tapi ini kesempatan untuk membantu mereka yang paling membutuhkan,” ucapnya tegas.
Dari Kampung ke Pusat: Memikul Mimpi Anak-anak Timur
Franklin lahir dan besar di pesisir Biak, tanah yang akrab dengan angin laut dan nyanyian adat Wor. Ia menyaksikan langsung anak-anak di kampungnya terpaksa berhenti sekolah—bukan karena malas, tapi karena tak punya seragam, ongkos, bahkan makan siang.
Itulah yang membawanya menempuh seleksi ketat menjadi kepala Sekolah Rakyat. Mulai dari wawancara, tes psikologi, hingga TOEFL—proses yang menurutnya tidak mudah bagi guru dari daerah. Tapi ia lolos. Bersama 99 orang lainnya, ia menjadi bagian dari angkatan pertama Kepala Sekolah Rakyat, sebuah program lintas jenjang dan lintas kementerian yang kini dijalankan oleh Kementerian Sosial RI.
Sekolah Rakyat, Asa yang Masih Menyusun Diri
Meski pelatihan telah selesai, ada satu hal yang masih membuat Franklin dan calon kepala sekolah lainnya gelisah: kejelasan SK (Surat Keputusan) pengangkatan dan tim guru yang akan mendampingi.
Baca Juga : Warga Biak antusias ikuti atraksi budaya Snapmor di Pantai Urfu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjawab kegelisahan itu. Ia memastikan bahwa SK resmi akan diterbitkan oleh Kemensos, dan bahwa kepala sekolah akan menjadi ASN pusat di bawah Kementerian Sosial. Guru pun akan direkrut dari berbagai jalur, termasuk PPPK daerah maupun seleksi nasional Kemensos.
Namun hingga hari terakhir retret, Franklin belum juga menemukan satu pun nama guru dari Papua. “Mungkin informasinya telat sampai. Tapi saya percaya, nanti akan ada yang datang,” ujarnya optimis.
Franklin akan memimpin Sekolah Rakyat tingkat SMA yang berlokasi di kompleks BKPSDM Kabupaten Biak Numfor. Ia belum meninjau langsung, tapi sudah membayangkan: ruang kelas sederhana, ranjang-ranjang asrama, dan anak-anak yang datang membawa harapan.
“Saya belum tahu siapa mereka. Tapi mereka sudah ada dalam doa saya.”
Janji Franklin untuk Anak-anak Biak
Menurut Kemensos, tahap pertama Sekolah Rakyat akan menampung 9.755 siswa, didampingi 1.554 guru, dan hampir 4.000 tenaga pendidikan. Semuanya akan mulai tinggal di asrama mulai 14 Juli 2025.
Franklin tahu, tantangan ke depan masih panjang. Gedung banyak yang belum rampung, data siswa belum lengkap, guru belum pasti. Tapi ia percaya: impian anak-anak Papua tak boleh lagi padam.
“Saya tidak sedang membangun sekolah, saya sedang menjaga janji. Janji bahwa kemiskinan tak boleh mematikan mimpi siapa pun.”















